Difable

METODE EVALUASI, SARANA DAN PRASARANA PEMBELAJARAN DIFABLE

Oleh:
Sepriyadi

Mahasiswa IAIN Curup,
JURUSAN PENDIDIDKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) CURUP
TAHUN 2020

Pendahuluan
Kata difable merupakan kata ganti untuk orang yang mengalami kecelakaan fisik, baik itu kecelakaan sejak lahir maupun kecelakaan yang mengakibatkan seseorang menjadi cacat atau terdapat kekurangan pada fisik, fsikis maupun mental. Kaum difable adalah mereka yang sama seperti kita pada umumnya, mereka juga mempunyai minat,bakat, maupun hobbi, akan tetapi fsikologis mereka mempengaruhi hal- hal tersebut. Mereka juga ingin mengenyam pendidikan seperti kita pada umumnya, dan hal itu adalah wajib bagi setiap kaum muslim untuk menuntut ilmu sebagaimana yang terdapat pada hadits Rasulullah Saw. Menuntut ilmu tidak diwajibkan untuk orang yang normal saja, mereka yang memiliki kekurangan fisikpun juga diwajibkan untuk menuntut ilmu.
Keterbatasan fisik memang sedikit menghalangi mobilitas dan aksesbilitas mereka tetapi hal itu tidaklah mengurangi semangat dan tekad juang mereka. Akan tetapi, disegi lain sering kali kita jumpai anak-anak difable yang tidak mengeyam pendidikan, dikarenakan sukarnya mendapati sekolah tang menyediakan layanan khusus kaum difable. hal itu membuat mereka menjadi terbengkalai dan dipandang sebelah mata oleh orang normal pada umumnya.
Untuk itu, mari kita benahi pandangan yang kurang baik terhadap kaum difable melalui lembaga pendidikan yang menyiapkan sarana dan prasaran khusus dalam menangani keadaan tersebut, dengan membuktikan bahwa kaum difable tidak hanya memliki kekurangan fisik melainkan mereka juga mempunyai kemampuan yang luar biasa dibalik kekurangannya.
Untuk membuktikan hal tersebut, pastinya terdapat berbagai metode pengajaran yang dilakukan, dan tak kalah pentinya adalah menyiapkan media yang cocok digunakan dalam mengatasi masalah tersebut.
Pembahasan
Pengertian Evaluasi
Sebelum memehami makna evaluasi, terlebih dahulu yang harus dipahami adalah arti dari (measurement) pengukuran dan penilaian.hal tersebut memiliki keterkaitan dengan kata evaluasi.
Dalam bahasa iIggris, pengukuran dikenal sebagai measurement dan dalam bahasa Arabnya adalah muqoyasah diartikan sebagai kegiatan yang dilakuakan untuk mengukur sesuatu. Mengukur pada hakikatnya adalah membandingkan sesuatu dengan atau atas dasar ukuran tertentu. Pengukuran ini bersifat kuantitatif. Sedangkan penilaian berarti memberi nilai pada sesuatu, sementara menilai itu mengandung arti mengambil keputusan terhadap sesuatu dengan mendasarkan diri atau berpegang pada ukuran baik atau buruk,pandai atau bodoh, sehat atau sakit dan sebagainya. Jadi, penilaian tersebut bersifat kualitatif.
Adpun pengertian evaluasi menurut sebagian para ahli, adalah sebagai berikut:
Menurut M. Khabib Thoha, evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu obyek dengan menggunakan instrument dan hasil perbandingan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan(Thoha, 1996)
Menurut Anas Sudiojono, evaluasi pendidikdan adalah kegiatan atau proses penentuan nilai pendidikan sehingga dapat diketahui mutu atau hasil-hasilnya(Sudiojono, 1996).

Dari pengertian diatas, dapat kita simpulakan bahwa evaluasi merupakan suatu kegiatan terencana yang bertujuan untuk mengetahui hasil yang telah dicapai melalui proses pertimbangan dan penilaian.

Obyek Evaluasi Pendidikan
Untuk mengetahui obyek evaluasi adalah dengan cara mengidentifikasi dari 3 bagian yaitu, input, output dan transformasi.
Dalam proses pembelajaran, input dijadikan sebagai bahan mentah atau calon peserta didik, output adalah bahan siap pakai dan tranformasi adalah tempat pengelolaan bahan mentah. Jika dilihat dari input, maka obyek evaluasi pendidikan meliputi tiga aspek, yaitu: aspek kemampuan, aspek kepribadian dan aspek sikap (Sudiojono, 1996).

Prinsip-Prinsip Evaluasi Pendidikan
Kontinuitas. Untuk mengetahui perkembangan kemampuan peserta didik secara optimal, baik dibidang kognitif, afektif maupun psikomotorik diperlukan evaluasi secara terus menerus.
Keseluruhan. Dalam proses evaluasi pembelajaran melibatkan seluruh peserta didik tanpa terkecuali meskipun terdapat perbedaan psikis, mental, fisik ataupun sebagainya.
Obyektifitas. Hasil evaluasi pembelajaran harus dilaksanakan secara obyektif yang disesuaikan dengan hasil nyata melalui instrument yang digunakan pada evaluasi
Kooperatif. Melaksanakan evaluasi dengan mengadakan kerja sama antara guru dengan peserta didik dalam hal mengemukakan kebutuhan- kebutuhan khusus bagi peserta didik yang memiliki kondisi tertentu (Arifin, 1991)

Tujuan Evaluasi Pendidikan
Tujuan umum
Untuk menghimpun bahan-bahan keterangan yang akan dijadikan sebagai bukti mengenai taraf kemajuan yang dialami oleh peserta didik, setelah dilakukan proses pengajaran dalam kurun waktu tertentu. Maka, dengan melakukan evaluasi pendidikan akan memperoleh data terhadap kemampuan serta perkembangan peserta didik dalam mencapai tujuan-tujuan kurikuler.
Untuk mengukur dan menilai afektifitas dan metode-metode mengajar yang telah diterapkan oleh pendidik serta kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik.
Tujuan khusus
Untuk membangkitkan gairah belajar peserta didik dalam menempuh program pendidikan sehingga mampu membenahi dan meningkatkan prestasi.
Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab keberhasilan dan ketidakberhasilan peserta didik dalam mengikuti program pendidikan. Sehingga dapat ditemukan solusi dan cara perbaikannya.(sudiojono, 1996)

Fungsi Evaluasi Pendidikan
Secara psikologi anak didik selalu ingin mengetahui sejauh mana perkembangan dan perjalanan yang telah dilewati dalam mencapai tujuan yang dikehendaki.
Secara sosilogis evaluasi berfungsi untuk mengetahui apakah peserta didik sudah cukup mampu untuk terjun kemasyarakat
Secara didaktis metodis, evaluasi berfungsi untuk membantu guru dalam menempatkan anak didik dalam kelompok tertentu yang sesuai dengan kemampuan serta membantu guru dalam memperbaiki metode pengajaran(sudiojono, 1996)

Teknis Evaluasi Pendidikan
Teknis evaluasi pendidikan ada dua yaitu:
Tes
Tes adalah alat atau prosedur yang digunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian. Tes sendiri dapat dilaksanakan dalam 3 bentuk,yaitu tes tulisan, tes lisan dan tes perbuatan. (Arifin, 1991)
Non Tes
Teknik non tes merupakan alat penilaian yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi tentang keadaan peserta didik atau peserta tes tanpa melalui tes dengan alat tes. Sebagaimana yang diketahui bahwa informasi tidak hanya berupa skor salah satunya lewat tes. Dan tidak sedikit pula informasi hasil belajar dan sebagainya justru lebih tepat diungkapkan dan diperoleh melalui cara selain pengukuran (Nurgianttoro, 2010). Teknik non tes terdiri dari berbagai teknik yaitu, observasi, wawancara, skala, sikap, check list dan ratting skill (Arifin, 1991).
Evaluasi Pembelajaran Pada Peserta Didik Difable
Evaluasi pendidikan sangat berperan penting dalam menyukseskan dan mencapai tujuan pendidikan. Hasil dari evaluasi yang dilakukan secara ruting merupakan serangkaian yang terjalin erat, yang mana proses suatu perkembangan individu baik itu dari segi kognitif, fsikomotorik maupun afektif. Untuk itu, hasil dari evaluasi pembelajaran merupakan syarat tercapainya tujuan pendidikan.
Dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran sering kali terjadi konflik dengan kondisi yang dialami peserta didik difable. peserta didik yang memiliki berbagai macam kondisi yang berbeda-beda, apalagi mereka yang mengalami kondisi khusus dan tentunya harus dihadapi dengan evaluasi khusus pula dalam pembelajaran. Umtuk itu, diperlukan inofasi dan krektivitas yang tinggi supaya murid mampu melaksanakan evaluasi yang sempurna yang mampu menciptakan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik.
Adapun beberapa bentuk modifikasi pelaksanaan evaluasi pembelajaran yang dilakukan sebagai usaha melayani kebutuhan murid yang mengalami keterbatasan fisik atau difable.
Ujian mandiri dengan komputer bicara
Ujian mandiri dengan bantuan komputer bicara ini pertama kali diterapkan di fakultas tarbiyah dan keguruan UIN Sunan kali jaga di Yogyakarta. Dan dilakukan pada tahun 2006 gagasan dari Dra. Soepatijantini, M. Pd. Ujian mandiri dengan menggunakan komputer diadakan sebagai respon adanya ketidak percayaan dari beberapa dosen pengampu mata kuliah difable netra. Sebab, saat ujian sebelumnya dilakukan menimbulkan kecurigaan murid lain dalam membacakan serta menulis jawaban untuk murid yang mengalami difable ketika ingin mengi jawaban.
Adapun beberapa tahapan pelaksanaan ujian mandiri dengan komputer berbicara kami jabarkan sebagai berikut:
Mahasiswa difable netra membacakan soal dalam bentuk huruf braeile atau membaca dalam bentuk soft copy.
Mahasiswa difable netra menuliskan jawaban dengan cara mengetik pada komputer berbicara yang sudah disiapkan.
Setelah selesai ujian, mahasiswa difable netra melapor pada petugas yang mengawasi pelaksanaan ujian mandiri.
Kemudian petudas merapikan dokumen hasil ujian dan mengeprintnya
Ujian dengan pendampingan
Ujian dengan pendampingan resmi
Adalah ujian yang dilaksanakan dengan pendamping resmi yang ditugaskan oleh institusi pendidikan atai lembaga tertentu yang memiliki kewenangan menentukan pendamping ujian.
Ujian dengan pendamping resmi di universitas
Pada awalnya lembaga ini merupakan otonom non-struktural. Lembaga ini dikhususkan untuk menangani permasalahan mahasiswa difable baik masalah administrasi maupun kegiatan yang berkaitan dengan perkuliahan. Untuk itu, kegiatan advokasi dan pendampingan dilaksanakan oleh Pusat Pelayanan Difable (PLD). Untuk mewujudkan pelayanan inklusif bagi mahasiswa difable. yang merupakan wujud dari hasil real kegiatan-kegiatan tersebut adalah terbentuknya layanan khusus difable (difable correr), dan kegiatan pendampingan ujian saat ini dilakukan secara resmi dengan surat pendampingan dari PLD.
Ujian dengan pendamping resmi disekolah
Pelaksanaan evaluasi pembelajaran pada sekolah inklusi dilaksanakan ketika ujian tengah semester (UTS) maupun ujian akhir semester (UAS) diselenggarakan dengan adanya pendamping resmi. Guru ditugaskan untuk membacakan soal pada peserta didik yang mengalami difable netra.dan para peserta menuliskan jawaban dengan menggunakan huruf braille. Kemudian para guru pendamping khusus mentraslitekan jawaban tersebut dalam huruf biasa. Kegiatan ini diadakan disekolah yang memiliki peserta didik difable netra dan guru pendamping khusus. Hal seperti ini juga diberlakukan pada ulangan harian, pekerjaan rumah maupun tes sumulatif.
Ujian dengan pendamping bebas.
Merupakan ujian yang dilakukan pada peserta didik difable yang membawa pendamping khusus tersendiri tanpa adanya lembaga secara resmi memberikan tugas pendamping tersebut. Ujian semacam ini mayoritas dilakukan diberbagai universitas yang menerima murid difable netra , tetapi belum menyediakan lembaga yang menampung atau memberikan pelayanan khusus aksesbilitas bagi kaum difable. selain itu, ujian secara lisanpun dilaksanakan kepada peserta didik dan peserta memberi jawaban dengan lisannya. Adapun bentuk ujian lisan yang dilakukan terhadap peserta didik difable melalui berbagai pertimbangan:
Bentuk ujian lisan sangat tepat untuk mengevaluasi hasil pembelajaran tertentu seperti ujian speaking dan praktik.
Bentuk ujian lisan yang disukai oleh penguji.
Bentuk ujian lisan dapat dijadikan model evaluasi pembelajaran yang adaptif bagi peserta difable netra.
Sarana Dan Prasarana Pembelajaran Difable
Pengertian Sarana Dan Prasarana Pendidikan
Sarana pendidikan adalah fasilitas yang berupa macam peralatan, bahan dan perabot yang digunakan guru ataupun murid untuk mempermudahkan penyampaian materi ataupun proses pemahaman pembelajaran.
Prasarana pendidikan adalah segala macam peralatan, kelengkapan, dan benda-benda yang digunakan guru dan murid dalam memudahkan penyelenggaraan pendidikan.
Fungsi Sarana Dan Prasarana Pendidikan
Alat pelajaran, adalah alat- alat yang digunakan untuk pelaksanaan belajar seperti; papan tulis, pena, spidol dan lain-lain.
Alat peraga, adalah segala alat yang digunakan untuk meragakan obyek atau materi pelajaran yang tidak terlihat maupun yang susah dilihat dengan memberikan contoh obyek.
Media pendidikan, merupakan segala sesuatu yang didalamnya memuat unsur pesan yang menjadi sebuah perantaraan komunikasi.

Manajemen sarana dan prasarana pendidikan difable
Manajemen sarana dan prasarana sekolah bertugas merencanakan, mengarahkan, mengkoordinasi, mengevaluasi sesuai kebutuhan dan menoptimalkan pada kegiatan pembelajaran.
Komponen sarana dan prasarana dalam sistem pendidikan difable merupakan salah satu komponen penting, melihat kebutuhan murid yang berbeda-beda, tentunya terdapat pula penyesuaian terhadap kebutuhan murid agar proses belajar menjadi efektif dan optimal.
Sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam pendidikan difable
Sarana dan prasarana umum
Ruang kelas beserta perlengkapannya
Ruang praktikum atau laboratorium beserta perangkatnya
Ruang perpustakaan beserta perangkatnya
Ruang serba guna beserta perlengkapannya
Ruang BP/BK beserta perlengkapannya
Ruang UKS beserta peralatannya
Ruang kepala sekolah, guru, dan tata usaha beserta perlengkapannya
Lapangan olahraga beserta peralatannya
Kantin
Ruang sumber
Sarana yang dibutuhkan anak berkebutuhan khusus.
Anak tuna netra
Alat asesmen kelainan penglihatan
Alat bantu pembelajaran atau layanan akademik pendidikan
Alat bantu auditif atau alat bantu pendengaran
Alat latihan fisik
Anak tuna rungu atau gangguan komunikasi
Alat asasemen kelainan pendengaran
Latihan komunikasi persepri bunyi dan irama
Alat bantu akademik
Alat latihan fisik
Anak tuna grahita
Alat asasemen
Latihan sensori visual
Latihan sensori perabaan
Latihan sensori pengecap dan perasa
Latihan bina diri
Konsep dan simbol bilangan
Kreativitas
Alat pengajaran bahasa
Latihan persepsial motoric
Anak tuna daksa
Alat asasemen
Alat latihan fisik atau bina gerak
Alat bina diri
Alat bantu belajar atau akademik
Anak tuna laras
Alat asasemen
Alat terapi fisik
Anak berbakat
Alat asasemen
Alat bantu akademik
Anak yang mengalami kesulitan belajar
Alat asasemen
Alat bantu akademik
Prasarana yang dibutuhkan anak berkebutuhan khusus
Anak tuna netra
Anak Untuk anak didik yang tuna netra diperlukan ruang untuk melaksanakan kegiatan asasemen, konsultasi, orientasi, mobilitas, remedial teaching, latihan menulis braile, latihan mendengar, latihan fisik, keterampilan, dan penyimpanan alat.
Anak tuna runggu
Untuk anak tuna runggu atau gangguan komunikasi diperlukan ruang untuk melaksanakan kegiatan asasemen, konsultasi, latihan bina bicara, bina persepsi bunyi dan irama, remedial teaching, keterampilan, perseptual, dan penyimpanan alat.

Anak tuna grahita
Untuk peserta didik tuna grahita atau anak lambat belajar diperlukan ruang untuk melaksanakan kegiatan asasemen, konsultasi, latihan sensori, bina diri, remedial teaching, konseptual, keterampilan dan penyimpanan alat.
Anak tuna daksa
Untuk anak tuna didik tuna daksa diperlukan ruang untuk melaksanakan asasemen, konsultasi, latihan fisik, bina diri, remedial teaching, keterampilan dan penyimpanan alat.
Anak tuna laras
Untuk peserta didik tuna laras diperlukan ruang untuk melaksanakan kegiatan asasemen, konsultasi, latihan perilaku, terapi keterampilan, terapi fisik, remedial teaching, dan penyimpanan alat.
Anak yang mengalami kesulitan belajar
Untuk anak yang mengalami kesulitan belajar diperlukan ruang untuk melaksanakan kegiatan asasemen dan remedial atau disiapkan ruang sumber.

Kesimpulan
Setiap peserta didik berhak mendapatkan pelayanan pendidikan, baik dari segi metode, media, sarana dan prasarana, maupun bentuk evaluasi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Dan hal tersebut merupakan kewajiban dari setiap lembaga pendidikan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Didalam kurikulum yang baku, sebagai tenaga pendidik harus memiliki kecakapan dalam memodifikasi metode, media, sarana dan prasarana serta mengevaluasi pembelajaran agar dapat diterapkan dan mencapai tujuan yang diinginkan.
Untuk menunjang kemampuan dan keberhasilan dalam proses pembelajaran difable, maka evaluasi pembelajaran harus bersifat difable atau inklusif sesuai dengan kebutuhan. Metode evaluasi pembelajaran difable memiliki metode- meode tersendiri seperti; ujian mandiri menggunakan komputer berbicara, ujian dengan menggunakan pendamping resmi maupun pendamping bebas atau ujian dalam bentuk lisan seperti penyandang difable tuna netra.
Selain menggunakan berbagai metode dalam evaluasi pembelajaran, hal yang tak kalah penting untuk diperhatikan adalah kesiapan sarana dan prasarana dalam membantu mengoperasikan lembaga pendidikan dan membantu memudahkan guru maupun murid dalam proses pembelajaran. Dalam penggunaan sarana dan prasarana juga butuh penyesuaian, yang mana sarana dan prasarana disesuaikan dengan kebutuhan melalui pembagian yaitu; sarana dan prasarana kebutuhan umum serta sarana dan prasarana kebutuhan khusus.yang mana sarana dan prasarana difungsikan untuk membantu penyelenggaraan pendidikan dan memudahkan kegiatan pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal, (1991). Evaluasi Instruksional Prinsip Teknik prosedur. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Nurgianttoro, Burhan, (2010). Penilaian Bahasa Berbasis Kompetensi, yogyakarta: BPFE.
Sudiojono, Anas, (1996). Pengantar Evaluasi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Thoha, Chabib, (1996). Teknik Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Dapa, Aldjon. Dkk. (2007). Manajemen Pendidikan Inklusif, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Direktorat Ketenagaan.
https://www.researchgate.net/publication/319648324_Metode_Evaluasi_Pembelajaran_Inklusif_Bagi_Peserta_Didik_Difabel_Netra
http://rinitarosalinda.blogspot.com/2015/10/sarana-dan-prasarana-pendidikan-inklusif.html